Renungan Hati dalam Sebuah Kisah
Ada dua orang
bersaudara yang dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang sama,
tetapi ketika dewasa kehidupan mereka bak bumi dan langit. Bahkan,
perilaku dan nasib mereka sungguh jauh berbeda.
Yang bungsu adalah seorang pemabuk, penjudi, dan sering berbuat onar
di keluarga dan masyarakat. Sedangkan kakaknya, si sulung, adalah
seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak perusahaan dan disegani
oleh masyarakat karena sikapnya yang ramah dan suka menolong orang lain
yang mengalami kesulitan.
Anda pasti bertanya tanya, mengapa dua orang yang berasal dari orang
tua yang sama bisa tumbuh menjadi pribadi yang berbeda? Faktor apa yang
memengaruhi kehidupan mereka?
Seorang psikolog yang penasaran mencoba mewawancarai mereka untuk mencari tahu latar belakang atau penyebab perbedaan tersebut.
Kepada si bungsu yang kehidupannya kacau balau itu sang psikolog
bertanya, "Bagaimana kehidupan Anda bisa menjadi seperti ini? Faktor
apakah yang membuat hidup Anda berantakan? Adakah tokoh atau figur yang
memotivasi Anda untuk berantakan? Adakah tokoh atau figur yang
memotivasi Anda untuk berbuat seperti ini?"
Laki laki itu (si bungsu) terdiam sejenak. "Ini semua karena ayah saya," jawabnya dengan lantang.
"Apa yang salah dengan ayah Anda?" tanya psikolog itu.
"Ayah saya yang memberi contoh kepada saya sehingga kehidupan saya
menjadi seperti ini. Ia adalah seorang penjudi, pemabuk dan sering
melakukan kekerasan kepada isteri dan anak anaknya. Jadi, tidak heran
kalau hidup saya seperti ini," ungkap si bungsu seakan melemparkan semua
kesalahan itu kepada ayahnya.
Beberapa hari kemudian, sang psikolog mengajukan pertanyaan yang sama
kepada si sulung yang hidupnya sukses dan memiliki keluarga yang
bahagia.
"Bagaimana hidup Anda bisa sukses seperti ini? Adakah orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan Anda?"
"Ayah saya, dia adalah orang yang memotivasi saya untuk menjadi orang
yang benar dan sukses. Sejak kecil saya sudah mengalami berbagai
kepahitan akibat ulahnya yang kerap berjudi, mabuk mabukan dan tidak
memiliki tanggung jawab terhadap keluarga.
Karenanya, sejak saat itu saya berjanji kepada diri saya sendiri
bahwa kelak saya tidak akan mengikuti jejak dan sikap ayah saya yang
buruk itu," jelas si sulung yang menjadikan sikap ayahnya yang buruk itu
sebagai sumber motivasi untuk melakukan perubahan dalam hidupnya.
"Di tangan orang-orang hebat, Kotoran bisa diubah menjadi pupuk."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar